Selasa, 30 April 2013

Naskah Drama Proses Kemerdekaan Indonesia


1 Maret 1945
Kumakichi Harada : Pada hari ini 1 Maret 1945, resmi dibentuk BPUPKI atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia resmi dibentuk dengan tujuan untuk menyelidiki hal-hal penting menyangkut pembentukan negara Indonesia.

29 April 1945, setelah BUPKI dibentuk pada tanggal 1 Maret 1945 Kumakichi Harada menentapkan Ketua BPUPKI yaitu dr. K.R.T Radjiman Wediodiningrat. Sedangkan yang duduk sebagai ketua Muda adalah Ichibangase dan R.P Suroso. Dan sekertaris adalah Mr. A.G. Pringgodigdo. Dengan anggota sebanyak 60 orang.

29 Mei 1945 BPUPKI mengadakan sidang pertamanya yang membahas tentang dasar negara bagi Indonesia.
Radjiman Wediodiningrat      : Bagaimana pandangan anda terhadap dasar negara bagi Indonesia?
Moh. Yamin                            : (ngacung)
Radjiman Wediodiningrat : Silahkan Moh. Yamin untuk menyampaikan pandangan anda tentang dasar negara
Moh. Yamin                            : Pandangan saya tentang dasar negara adalah 1) Peri Kebangsaan 2) Peri Kemanusiaan 3) Peri Ketuhanan 4) Peri Kerakyatan 5) Peri Kesejahteraan Rakyat.

31 Mei 1945 BPUPKI melanjutkan sidang yang pertama
Radjiman Wedyodiningrat      : Hari ini kita melanjutkan sidang yang pertama. Setelah pendapat dari Moh. Yamin. Mungkin ada yang mau menyampaikan pandangan lain?
Soepomo                                 : Saya
Radjiman Wedyodiningrat      : Ya, silakan Mr. Soempomo
Soepomo : Menurut saya 1) Persatuan 2) Kekeluargaan 3) Keseimbangan Lahir dan Batin 4) Musyawarah 5) Keadilan rakyat.

1 Juni 1945, BPUPKI mengadakan rapat lagi melanjutkan sidang pertama
Radjiman Wediodiningrat      : Setelah usulan dari Moh. Yamin dan Mr. Soepomo. Pak Soekarno , mungkin anda memiliki pandangan sendiri tentang dasar negara untuk Indonesia?
Soekarno                                 : Menurut pendangan saya dasar negara indonesia adalah 1)Kebangsaan Indonesia 2)Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan 3) Mufakat atau Demokrasi 4) Kesejahteraan Sosial 5) Ketuhanan yang Maha Esa. Dan saya menamainya Pancasila

Setelah sidang perama, ada masa reses hingga 10 Juli 1945. Selanjutnya diadakan sidang tidak resmi membahas rancangan Pembukaan Undang-Undang dasar 1945. Selanjutnya dibentuklah panitia kecil yang beranggotakan 9 orang. Diketuai oleh yaitu Soekarno, dan wakilnya Drs. Moh. Hatta.
22 Juni 1945. Panitia sembilan bersidang
Moh Yamin                             : Bagaimana jika rumusan dasar negara yang sudah di setujui yaitu : 1) Ketuhanan dengan kewajuban menjalankan syariat-syariat Islam bagi pemelukanya 2) dinamai dengan Piagam Jakarta?
Anggota           : (Setuju)
Soekarno         : Saya juga setuju
Moh. Hatta      : Tetapi saya tidak setuju dengan Piagam Jakarta sila Pertama
Moh. Yamin    : Mengapa?
Moh Hatta       : Menurut saya Piagam Jakarta sila pertama perlu diubah karena Indonesia bukan negara Islam.

Setelah melalui beberapa kompromi, akhirnya Ir. Soekarno memutuskan
Soekarno         : baiklah. Setelah melalui proses yang panjang, sila pertama yang awalnya Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluknya diubah menjadi Ketuhanan yang Maha Esa.

Sidang ke2 BPUPKI membahas Rancangan UUD dan BPUPKI mempentuk panitia kecil bernama Panitia Perancang UUD yang diketuai oleh Ir. Soekarno
Pada 14 Juli 1945
Soekarno         : Saya ingin menyampaikan hasil kerja keras Panitia Kecil yaitu : 1) Pernyataan Indonesia merdeka 2) Pembukaan Undang-undang Dasar 3) Batang Tubuh Undang-undang dasar. Dan dalam batang tubuh juga disepakati wilayah negara, bentuk negara : Kesatuan, Pemerintahan : Republik. Bendera Nasional : Merah Putih, dan bahasa Nasional : Bahasa Indonesia.

Berita Kekalahan Jepang. Pada tanggal 15 Agustus 1945 Sultan Syahrir mendengar berita kekalahan Jepang melalui Radio Domei.
Sutan Syahrir : Apakah kalian sudah mendengar berita kekalahan Jepang ?
 Sukarni           : Belum. Memang kenapa?
Sultan Syahrir : Dari yang kudengar di radio Domei, Jepang telah melakukan genjatan senjata.
Chairul Saleh   : Kalau begitu kita harus segera memprolamasikan kemerdekaan.

Rengasdengklok
Setelah mendengar berita kekalahan Jepang, Chairul Shaleh segera merencanakan pertemuan dengan anggota golongan muda untuk membicarakan masalah proklamasi kemerdekaan. Setelah mengadakan Pertemuan mereka pergi ke rumah Soekarno untuk mendesak kepada Soekarno Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 16 Agustus 1945.
Wikana             : Kita harus memproklamirkan kemerdekaan sekarang!
Soekarno         : Inilah leherku saudara boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepaskan tanggung jawab saya sebagai ketua PPKI. Karena itu saya tanyakan kepada wakil-wakil PPKI besok.

Para pemuda tidak putus asa atas kegagalan tersebut mereka menyusun strategi untuk membujuk Soekarno dan Moh. Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan sesegera mungkin. Tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB, kediaman Soekarno membawa mereka ke Rengasdengklok untuk diasingkan.

Chairul Saleh   : Assalamualaikum
Moh Hatta       : Waalaikumsalam. Ada apa datang sepagi ini?
Darwis             : Kami bermaksud membawa anda dan Soekarno untuk ikut kami menuju tempat pengasingan.
Chairul Saleh   : Kami akan membawa kalian untuk diasingkan agar terhindar dari
 Ancama bentrok antar rakyat dan jepang.
Soekarno         : Baiklah kami akan ikut.
Darwis             : Sebaiknya Ibu Fatmawati dan anak anda ikut serta. Untuk menjamit keselamatan mereka.
Soekarno         : Baiklah, saya akan mengajak mereka.

Hilangnya Soekarno dan Moh. Hatta membuat kepanikan anggota Golongan Tua.

Mr. Soebardjo : Apakah anda tau dimana Soekarno dan Hatta?
 Wikana           : Saya tidak tahu.

Mr. Soebardjo memanggil seorang pemuda untuk mengantar dia ke Rengasdengklok. Perundingan Soekarno di Rengasdengklok.
Soekarno                     : Kenapa saya dibawa kesini?
 Darwis                        : Kami ingin membicarakan masalah proklamasi
 Hatta                          : Kami masih menunggu sidang di PPKI
 Shodanco Singgih       : Ini kesempata anda, sekarang Indonesia dalam vaccum of power
 Hatta                          : Apakah bisa?
 Shodanco Singgih       : Tentu bisa. Para pemuda di Jakarta telah membentuk pertahanan untuk mencegah kedatangan sekutu.
 Soekarno        : Baiklah saya setuju

Perumusan Text Proklamasi
Rombongan Soekarno pergi ke Rumah Takashi Maeda Jalan Imam Bonjol No.1, Jakarta. Perumusan teks Proklamasi dilakukan di rumah makan Maeda. Acara perumusan dan hasil rumusan Soekarno dan Mohammad Hatta ditulis dan dibacakan pada para hadirin di Rumah Takashi Maeda.

Soekarno         : Siapa yang menandatangani teks proklamasi? Ada yang punya pendapat?
 Chairul Saleh : Bagaimana jika kau saja?
Soekarno         : Bagaimana jika Atas Nama Bangsa Indonesia.
Para Hadirin    : (setuju)
 Chairul           : Ditandantangani oleh anda dan Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Setelah semuanya setuju, Soekarno memerintahkan Sayuti Melik untuk mengetik teks Proklamasi
 Soekarno        : Tolong kau ketik teks proklamasi ini. Jagalah teks ini baik-baik.
 Sayuti                         : Baik, Bung.

Sayuti Melik pun mengetik teks tersebut. Semua persiapan proklamasi rampung pada pukul 04.30 WIB. Lalu, semua hadirin pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira. Kemudian para pemuda mengirimkan kurir-kurir untuk menyampaikan bahwa saat proklamasi telah tiba. Mereka juga mengatur pelaksanaan penyiaran berita proklamasi kemerdekaan. Menyebarkan beberapa pamfleet ke penjuru Jakarta dan sekitarnya. Pengeras suara diusahakan adanya. Semua dilakukan agar rakyat dapat turut menyaksikan momen paling berharga untuk bangsa Indonesia

Pada saat yang sama, Soekarno dan Ibu Fatmawati sampai di kediaman mereka dan berbincang sejenak.

Soekarno                     : Alhamdulillah akhirnya semua berjalan dengan lancar. 
Ibu Fatmawati             : Iya, terimakasih Gusti Allah yang telah memberikan jalan pada bangsa kita untuk memproklamasikan kemerdekaan. Oh Iya pak, apakah kalian sudah merencanakan bagaimana proklamasi besok akan berlangsung?

Soekarno                     : Sudah, kita akan melaksanakan upaca bendera, yang nanti akan di iringi lagu Indonesia Raya karya Supratman.
 Ibu Fatmawati : Bukankah kita belum punya bendera?
 Soekarno                    : Ya ampun, Bapak sampai lupa Bu. Kalau begitu bagaimana jika ibu saja yang menjahitkan bendera?
Ibu Fatmawati             : Tapi Ibu tidak punya kain, Pak. Kain yang ada hanya kain merah dan putih. Apa tidak apa-apa?
 Soekarno                    : Tidak papa. Buatlah bendera yan sederhana. Yang penting kita sudah berusaha menyediakannya.
 Ibu Fatmawati            : Baiklah Pak. Dan Ibu punya ide. Kita namakan saja benderanya “Sang Saka Merah Putih” Bagaimana?
 Soekarno                    : Ide yang bagus. Bendera Pusaka “Sang Saka” dan warnanya Merah Putih, menjadi “Sang Saka Merah Putih”
 Ibu Fatmawati            : Ya sudah, sebaiknya Bapak bersiap sana. Menyusun pidato yang nanti akan bapak bacakan.

Sesaat sebelum upacara dimulai…

Soekarno                     : Trimurti, tolong Anda kibarkan bendera Merah Putih ini sebagai tanda awal kejayaan bangsa ini. (sambil menyerahkan bendera)
 Trimurti                       : Siap, Bung. Saya akan menyuruh anak didik saya untuk mengibarkannya. (memanggil Suhud dan Latief) Hei, kalian ! Jaga baik-baik bendera ini. Kalian mendapat kehormatan untuk mengibarkan bendera ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia.
 Latief dan Suhud        : Siap, Komandan ! Kami tak akan mengecewakan Anda.

Tiba saatnya Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia…
Suasana menjadi sangat hening. Soekarno dan Hatta dipersilahkan maju beberapa langkah dari tempatnya semula. Soekarno mendekati mikrofon. Dengan suaranya yang lantang dan mantap, Soekarno pun membacakan pidato pendahuluan sebelum beliau membacakan teks proklamasi.

Pidato Soekarno :

               Saudara-saudara sekalian ! Saya telah minta Saudara hadir disini, untuk menyaksikan peristiwa maha penting dalam sejarah bangsa kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang umtuk merdeka. Bahkan telah beratus-ratus tahun lamanya, gelombang aksi kita tidak putus dalam berjuang untuk memerdekakan negeri ini. Kita jatuh bangun menyusun kekuatan untuk menggapai cita-cita Indonesia bebas dari penjajahan bangsa lain. Semalam, kami para pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari berbagai penjuru bergabung untuk memusyawarahkan dan permusyawaratan itu seiya-sekata berkata : inilah saatnya bagi kita untuk mengobarkan api revolusi kemerdekaan Indonesia. Saudara sekalian ! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami :

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya

Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 45
“Atas nama bangsa Indonesia”

Soekarno-Hatta


Kemudian di kibarkanlah bendera Sang Saka Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya. Hadirin turut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia tersebut.

Peristiwa Proklamasi ini memang hanya berlangsung sebentar. Namun. Peristiwa itu telah megubah segala sendi kehidupan bangsa Indonesia. Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan telah menjadi momentum puncak perjuangan Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa harus berprestasi dalam rangka mengisi kemerdekaan tersebut, bukan malah menodainya. Kita harus bisa membalas budi para pejuang Tanah Air jaman dahulu dengan cara mempertahankan kemerdekaan ini !



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar